Kasih = Mendengarkan



Happy belated valentine, dear readers :)
Seperti tahun lalu, di bulan ini aku juga mau nulis tentang kasih.
Bulan Februari, selalu punya cerita tersendiri buatku.
Begitu juga Februari kali ini.
Februari, bulan memperingati hari kasih sayang.
Berikut, renunganku di hari ‘keramat’ itu, 14 Februari.
Diambil dari terjemahan Our Daily Bread edisi tahunan.

—————————————————————
“Kasih Bersedia Mendengarkan”

Dengarlah suaraku sesuai dengan kasih setia-Mu;
ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-Mu.

Bila kita mengasihi orang lain, kita mendengarkan mereka. Tentu saja, membutuhkan waktu dan usaha untuk memberikan perhatian kepada mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Namun, jika kita melakukannya, hal itu menunjukkan perhatian dan rasa hormat yang tulus.

Penulis Wayne Alderson bercerita tentang seorang pendeta muda yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan masalah-masalah dari para jemaatnya. Suatu hari ia pulang dan menyapa istrinya, “Bagaimana kabarmu hari ini?”. Selama setengah jam istrinya bercerita tentang masalah mobilnya, sakit telinga yang diderita anaknya, dan kesulitannya ketika memperbaiki peralatan rumah tangga. Lalu, pendeta itu membuat sederet hal yang perlu dilakukan istrinya untuk memecahkan masalah.

Namun, si istri hanya menatapnya, lalu berkata, “Aku sudah melakukan semua itu. Aku tak perlu menunggumu untuk mengatasi masalah. Aku hanya ingin kau mengetahui apa yang telah kualami.”

Ketika penulis Mazmur 119 berseru, “Dengarkan suaraku sesuai dengan kasih setiaMu”, ia mengungkapkan kebenaran bahwa Allah yang mengasihi kita selalu bersedia mendengarkan kita. Bersedia mendengarkan adalah bagian dari sikap mengasihi.

Mendengarkan istri, suami, rekan kerja, atau saudara seiman, mungkin merupakan hal yang mereka butuhkan supaya memperoleh semangat kembali atau dapat melihat masalah dengan lebih jelas. Mari belajar mendengarkan. Allah sendiri menunjukkan bahwa kasih itu bersedia mendengarkan.

Bebanku sekarang menjadi jauh lebih ringan,
Aku telah sekilas memandang hal-hal yang ingin kulihat,
Esok hari, kupunya harapan baru
Karena seseorang bersedia mendengarkanku. –Egner

—————————————————————


About rebecca_golda

ordinary girl with extraordinary God | music | piano | white lover View all posts by rebecca_golda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.